6 HAL TENTANG ASI YANG TERNYATA KELIRU

SALAH PAHAM TENTANG ASI

Orangtua manapun pasti menginginkan yang terbaik untuk buah hati mereka. Memilih ASI sebagai makanan utama untuk bayi adalah hal yang benar. Begitupun jika orangtua terpaksa memberikan susu formula untuk si kecil. Apa pun langkahnya, percayalah bahwa setiap orangtua hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Tak perlu mencela atau menghakimi pilihan.

Ada cerita menarik dari salah satu sahabat School of Parenting yang sedang berjuang memberikan ASI eksklusif untuk anak pertamanya. Anak laki-lakinya sekarang sudah berusia 10 bulan. Dua bulan terakhir ini, berat badan bayinya tak kunjung naik. Ditambah lagi, si kecil juga susah sekali makan.

Si Ibu pun stress melihat bayinya yang terlihat kurus. Kemudian si Ibu pun berniat memberikan susu formula. Nah, masalahnya di sini, apakah si bayi memang kekurangan ASI?

Benarkah langkah si Ibu untuk memberikan susu formula?

Jika melihat banyak kasus di lapangan, bayi ASI memang sering kali terlihat lebih kurus daripada bayi sufor. Akan tetapi, kurus atau gemuk sebenarnya tidak mutlak menentukan kesehatan bayi. Kurus dan gemuk bisa dipengaruhi oleh gen. Yang paling penting adalah Ibu harus tahu apakah bayi cukup nutrisi atau tidak.

Perihal ASI, selama ini memang banyak kesalahpahaman atau mitos soal ASI. Untuk ibu yang sedang berjuang memberikan ASI untuk buah hatinya, simak beberapa kesalahpahaman soal ASI berikut ini.

1. Salah Cara Mengecek Kecukupan ASI

Cara mengecek kecukupan ASI tidak bisa hanya berdasarkan tangisan atau frekuensi tidur bayi saja ya, Parents. Beberapa bayi memang sering menangis atau rewel dan ada juga bayi yang memang lebih tenang dan lebih banyak tidurnya. Jadi, dua hal ini tidak bisa jadi indikasi. Lalu, ada juga yang memastikan bayinya cukup ASI dengan memberikan ASI selama 20 menit di tiap payudara. Hal ini juga tidak menjamin.

Cara mengecek apakah Bayi mendapatkan ASI yang cukup adalah dengan mengecek frekuensi kencing dan juga BAB si bayi. Untuk bayi baru lahir, mereka biasanya akan pipis satu kali di hari pertamanya, dua kali di hari kedua, dan begitu seterusnya. Bayi yang normal bisa pipis 6 kali/hari setelah umurnya menginjak seminggu.

Sedang untuk BAB, bayi baru lahir biasanya akan BAB sekali dengan warna feses yang hitam. Lalu, setelah menginjak satu minggu BAB bayi akan berwarna kuning keemasan. Ini berarti ASI terserap sempurna oleh bayi. Kedua, warna urin bayi akan semakin jernih dan tidak berbau. Untuk beberapa hari pertama warnanya bisa sedikit oranye atau kuning tapi semakin hari akan semakin berkurang warnanya. Bila tidak,bisa jadi itu adalah tanda bayi kurang cairan,yang berarti ia harus diberikan lebih banyak ASI. Terakhir, berat bayi biasanya bertambah tiap 300 – 500 gram setiap bulannya.

Jika tiga syarat di atas tidak tercapai, mungkin benar bahwa anak menangis karena kelaparan. Penyebabnya bisa jadi karena anak susah menyusu akibat peletakan yang kurang efektif, masalah kelainan fisik bayi seperti tali lidah pendek (tongue tied), ibu yang mengalami baby blues syndrome, dll. Jika sudah begini, segera kunjungi klinik laktasi atau dokter anak. Jangan menundanya, terutama untuk new born. Kekurangan ASI pada bayi baru lahir bisa menyebabkan masalah kesehatan yang serius hingga kematian.

2. ASI yang Keluar Sedikit

Hasil Perah ASI

Beberapa sumber menyatakan bahwa cara mengecek bayi sudah menyusu dengan benar atau belum adalah dengan melihat kepadatan payudara. Jika kepadatannya berkurang, itu berarti bayi sudah menyusu dengan benar. Lagi-lagi, hal ini tidak mutlak ya, Parents. Beberapa ibu yang memang punya payudara kecil dan lembek biasanya tidak mengalami perubahan yang demikian. Payudara baru terasa mengencang setelah umur bayi seminggu atau lebih. Itu pun tidak lama, setelah usia bayi 3 bulanan, payudara bisa lebih lembek dan produksi ASI tidak berlebih.

Lalu, hasil ASI pompa/perah yang jumlahnya sedikit juga tidak bisa jadi patokan bahwa Ibu tidak bisa memproduksi ASI yang cukup. Masalahnya, pompa ASI itu sebenarnya bisa tergantung kecocokan. Ada busui yang lancar ASI-nya menggunakan pompa manual, ada juga yang harus menggunakan pompa elektrik baru bisa keluar. Intinya, tidak ada pompa buatan yang sebagus gerakan menyusu si kecil.

Bagaimana cara mengecek bahwa bayi menyusu dengan benar? Dengarkan suara ketika bayi sedang menyusu, apabila ada suara seperti menelan, itu berarti bayi sudah bisa menyusu.

Berkaitan dengan banyak sedikitnya ASI yang keluar, secara almiah sebenarnya ibu selalu memproduksi ASI sesuai dengan kebutuhan bayi. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang mempengaruhi produksi ASI. Ketika menjelang menstruasi dan saat menstruasi, biasanya produksi ASI akan menurun. Hal ini sangat wajar.

Lalu, ada dua hormon yang paling berpengaruh dalam produksi ASI, yaitu hormon prolaktin dan oksitosin. Hormon prolaktin adalah hormon yang memproduksi ASI. Makin sering bayi menyusu, makin sering pula ASI diproduksi. Lalu, hormon oksitosin adalah hormon yang mengeluarkan ASI. Hormon oksitosin juga sangat berkaitan dengan kondisi psikologis si ibu. Jika si ibu stress dan tertekan, kemungkinan besar ASI tidak akan keluar.

Hal ini juga yang mempengaruhi mengapa ibu melahirkan susah mengeluarkan ASI. Saat hendak melahirkan dan beberapa hari setelah melahirkan, Ibu biasanya mengalami stress dan banyak tekanan sehingga ASI pun tidak bisa keluar. Agar ibu bisa menghasilkan ASI dan menyusui anaknya dengan benar, perlu dukungan dari suami, keluarga, juga teman-temannya. Jangan terlalu membebani pikiran si Ibu. Percayalah bahwa Ibu tahu apa yang harus dilakukan dan akan melakukan apa pun yang terbaik untuk bayinya.

3. Anak ASI Masih Kurus

Untuk bulan-bulan pertamanya, berat badan anak biasanya akan terus naik minimal 300 gram tiap bulan. Lalu, bagaimana jika berat anak tak kunjung naik setelah bulan ke-9? Seperti kasus sahabat School of Parenting yang tadi dibahas di atas? Panduan utamanya bisa lihat di buku bayi dari rumah sakit atau grow chart. Jika berat badan bayi masih berada di zona hijau, ibu tidak perlu khawatir. Beberapa bayi memang memiliki gen mungil. Jadi, ya memang susah untuk gemuk. Yang perlu dilakukan adalah terus memantau perkembangannya dari aspek-aspek lain.

4. Anak Alergi ASI

Benarkah ada alergi ASI? Secara alamiah, tidak ada anak yang alergi ASI ibunya. Yang ada adalah anak alergi makanan yang dikonsumsi oleh ibunya dan diserap bayi melalui ASI. Jadi, jika anak mengalami gejala alergi seperti kulit keluar bercak merah, muntah,dll setelah minum ASI, Ibu harus mengobservasi diri sendiri apa yang membuat anaknya alergi, atau berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk memastikan reaksi apa yang sebernarnya terjadi pada anak.

Untuk sebagian besar orang Asia, bayi biasanya alergi dengan telur, sementara di luar negeri biasanya alergi kacang. Bila alergi memang sudah dipastikan, stop konsumsi makanan atau obat-obatan yang bisa membuat bayi alergi.

5. ASI Encer Berarti ASI Jelek

Itu hanya mitos, ya Ibu. Semua Busui harus yakin bahwa tidak ada ASI yang tidak baik untuk anaknya. Lalu, mengapa ASI bisa encer? Seiring dengan semakin bertambahnya usia anak, perbandingan antara foremilk dan hindmilk akan semakin besar sehingga ASIP pun terlihat lebih encer. Hal ini sangat wajar. Ingat, kebutuhan ASI secara alamiah sudah diatur sesuai dengan kebutuhan anaknya. Ketika anak sakit pun, secara otomatis payudara akan menangkap sinyal sehingga tubuh ibu akan memproduksi ASI yang mengandung zat antibodi. Bahkan, sampai pada tahun kedua si kecil, ASI tetap mengandung zat dan nutrisi yang bergizi.

6. Menyusui itu Gampang, kalau Saya Kesulitan Menyusui, itu Berarti Saya tidak Bisa Menyusui

Siapa bilang menyusui itu mudah? Meski seorang ibu tidak pernah mengeluh bagaimana sakitnya menyusui, tetap saja menyusui itu tidak mudah. Ada banyak masalah yang dialami busui, mulai dari ASI susah keluar, payudara lecet, payudara, ngilu, dan masih banyak yang lainnya. Kalau memang tidak ada kondisi kesehatan yang melarang untuk memberikan ASI, sebaiknya ibu tetap memberikan ASI. Percayalah bahwa ASI memang makanan terbaik untuk anak. Kita tentu ingin yang terbaik untuk anak, bukan?

Menjadi Ibu memang butuh perjuangan. Oleh karena itu, teruslah berjuang. Tetap semangat dan tetaplah belajar karena dunia selalu berkembang, begitupun cara kita mendidik si kecil.

***

Tulisan ini ditulis ulang dari postingan yang dimuat oleh Fan Page School of Parenting

Tags: